Malang, Safarini (2026) SKRIPSI - Analisis mazhab Syafi’i dan Hanbali terhadap tradisi Tempat Sirih Pinang saat proses meminang di Negeri Tenga-Tenga Kabupaten Maluku Tengah. Skripsi thesis, UIN A. M. Sangadji Ambon.
|
Text
HALAMAN SAMPUL- ABSTRAK.pdf Download (819kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (217kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (442kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Download (224kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (592kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (183kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN.pdf Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji tradisi tempat sirih pinang dalam pelaksanaan peminangan pada masyarakat Negeri Tenga-Tenga berdasarkan perspektif Mazhab Syafi‘i dan Hanbali. Tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya lokal yang memiliki makna simbolik sebagai bentuk kesungguhan pihak laki-laki dalam menyampaikan pinangan sekaligus wujud penghormatan kepada keluarga calon mempelai perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pelaksanaan tradisi tempat sirih pinang dalam proses peminangan serta menelaah kedudukannya dalam hukum Islam menurut pandangan Mazhab Syafi‘i dan Hanbali. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiologis dan normatif. Data penelitian diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat, serta dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi tempat sirih pinang dipahami oleh masyarakat sebagai unsur penting dalam rangkaian peminangan adat yang berfungsi sebagai media komunikasi simbolik antara kedua keluarga. Dalam pandangan Mazhab Syafi‘i dan Hanbali, peminangan (khiṭbah) merupakan tahapan sebelum akad nikah yang tidak menentukan sah atau tidaknya suatu perkawinan. Kedua mazhab juga mengakui keberadaan adat atau ‘urf dalam kehidupan sosial selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dengan demikian, tradisi tempat sirih pinang dapat dikategorikan sebagai praktik budaya yang dibolehkan, selama tidak diposisikan sebagai syarat sah peminangan menurut hukum Islam. Kata Kunci: tempat sirih pinang, peminangan, Mazhab Syafi‘i, Mazhab Hanbali.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information/Pembimbing: | Pembimbing I : Prof. Dr. La Jamaa, M.H.I - Pembimbing II: Dr. Rajab, S.Ag., M.Ag |
| Subjects: | Perbandingan Mazhab |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab dan Hukum |
| Depositing User: | Usemahu Abdullah |
| Date Deposited: | 19 May 2026 01:08 |
| Last Modified: | 02 Sep 2026 06:49 |
| URI: | http://repository.iainambon.ac.id/id/eprint/4883 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
